Monday, January 07, 2008
Gerakan Islam, Demokrasi, dan Politik
(Catatan Kecil Untuk Para Aktivis Islam)
Oleh : Wilopo Husodo

Perkembangan gerakan islam pasca reformasi mengalami peningkatan yang sangat signifikan, ini ditandai dengan maraknya diskusi-diskusi yang membicarkan tema-tema politik islam, dan di satu sisi bermunculannya organisasi-organisasi gerakan islam dengan berbagai ideologi gerakannya masing-masing. Hal tersebut merupakan anugerah demokrasi yang membuka ruang lebar bagi semua faham untuk memasuki ranah kehidupan sosial-politik negara Indonesia. Dan bahkan pada lingkup politik praktis ada beberapa parpol yang menggunakan Islam sebagai ideologi (asas) partai.


Sebelum bergulirnya orde reformasi, hampir semua gerakan Islam tidak memunculkan dirinya pada wilayah politik praktis karena rezim orde baru tidak memberikan ruang bagi gerakan islam yang sifatnya ideologis, semua gerakan yang ‘beraroma’ ideologis akan mengalami tekanan luar biasa, ini terbukti dengan bergulirnya paket kebijakan politik UU No.8 tahun 1985 yang mewajibkan asas tunggal pancasila kepada semua ormas atau parpol yang secara otomatis membungkam secara rapat mulut para aktifis gerakan islam.
Pada perkembangan selanjutnya ketika rezim orde baru berhasil di tumbangkan maka praktis warna-warni ideologi gerakan secara ‘gotong-royong’ serentak memberangus orde baru hingga ke akar-akarnya, tujuan mereka cuma satu yakni menciptakan KEBEBASAN BERPENDAPAT. Harapan dari bergulirnya orde reformasi adalah terciptanya jaminan kebebasan dalam menyuarakan pendapat. Tak terkecuali gerakan islam baik di sektor politik maupun sosial-masyarakat, semua beramai-ramai menikmati angin segar kebebasan berpendapat yang kemudian iklim ini banyak yang menyebut dengan istilah DEMOKRASI. Sehingga muncullah wajah-wajah gerakan islam (jamaah) dengan berbagai simbol (atribut) dan paradigma gerakannya. Semuanya lantang meneriakkan semangat penegakkan syariat islam, khilafah islam, pemurnian aqidah islam (anti bidah), negara islam, dan lain-lain.
Munculnya wajah-wajah jamaah pergerakan Islam di tengah masyarakat kemudian memberikan nuansa baru terhadap masyarakat dalam memahami Islam sebagai bukan hanya sekedar ritual belaka, tetapi Islam secara menyeluruh yakni sebagai ideologi, gaya hidup, negara, hingga masalah keluarga maupun pribadi. Masyarakat menemukan pemahaman baru tentang Islam, dengan kata lain masyarakat mulai tercerahkan bahwa ternyata Islam memiliki dimensi yang begitu luas dan agung, meskipun masih banyak masyarakat yang belum bisa menerima cara pandang baru tersebut karena kebanyakan dari mereka lebih ‘enjoy’ dengan cara pandang lama.
Momentum demokrasi (baca:kebebasan berpendapat) menjadi alat yang sangat strategis bagi elemen gerakan Islam untuk menusuk langsung ke jantung kehidupan negara dalam menyi’arkan ideologi islam, namun sayangnya banyak elemen pergerakan islam itu sendiri yang ‘tidak tahu diri’ dengan menghujat demokrasi yang sebenarnya, yang sekali lagi,demokrasi hanyalah sebagai alat tidak kurang dan tidak lebih!. Banyak yang mempersoalkan demokrasi sebagai suatu ‘barang’ haram seperti layaknya judi dan miras. Ijtihad seperti ini kemudian mendapatkan pembenarannya ketilka hanya berlandaskan pada pendekatan historis demokrasi, tetapi tidak melihat manfaat besar di balik iklim demokrasi bagi eksisitensi pergerakan Islam. Namun jika kita melihat demokrasi sebagai sebuah tujuan maka itu merupakan kesalahan besar bagi organisasi (pergerakan) Islam, karena tujuan universal gerakan islam adalah diterapkannya islam sebagai ideologi negara, syariat , dan kekhalifahan global.
Tumbuh-kembang gerakan-gerakan Islam di seluruh dunia memang harus di dukung dengan iklim kebebasan yang kondusif, karena banyak pengalaman sejarah yang menceritakan bagaimana gerakan dakwah menemui tekanan yang luar biasa oleh penguasa atau pemerintah. Alquran sendiri menceritakan tentang kerasnya perjuangan dakwah para pemuda kahfi yang mendapat intimidasi dari raja setempat, sehingga mereka melakukan diskusi (pertemuan) keislaman di tempat-tempat tersembunyi yang jauh dari jangkauan penguasa. Kemudian jika kita melihat perjuangan khomeini (revolusiner Republik Islam Iran) yang pernah di buang ke perancis karena dakwahnya dianggap membahayakan eksistensi penguasa, walaupun pada akhirnya khomeini berhasil menjungkal rezim pahelvi yang korup. Dan ada lagi, perjuangan Hasan Albana di mesir yang berhasil mendirikan jamaah revolusioner Ikhwanul Muslimin yang kemudian berhasil menumbangkan raja Faruq yang zalim, namun kemudian gerakan ikhwan justru malah mendapat tekanan dari pemerintah yang diusungnya sendiri. Sungguh betapa mengerikannya jika di Indonesia rezim yang berkuasa adalah bertangan besi yang kemudian mereka secara terorganisir melakukan ‘pemusnahan massal’ terhadap jamaah-jamaah dakwah.
Maka sekali lagi, disinilah kita melihat faedah besar demokrasi sebagai pintu masuk harokah dakwah, yang jika dikelola dengan baik maka akan sangat bermanfaat bagi eksistensi gerakan Islam. Iklim kebebasan berpendapat (demokrasi) harus dapat di manfaatkan secara optimal oleh kader-kader gerakan Islam karena suasana politik yang kondusif akan sangat menopang percepatan gerakan Islam baik pada sektor kultural maupun struktural. Belum lagi, jika kita melihat demokrasi yang membuka keran politik bagi gerakan Islam untuk memasuki ranah politik praktis, maka kedepannya eksistensi gerakan Islam akan semakin kuat karena mendapatkan legitimasi konstitusional.
Maka yang perlu dibangun oleh organisasi maupun jamaah pergerakan Islam di era demokratisasi ini adalah adanya kesadaran politik yang berangkat dari fakta-fakta sejarah maupun fakta kontemporer sehingga keluwesan dari ajaran Islam itu sendiri akan semakin nampak, bukannya justru sebaliknya islam malah tampak tidak ‘matching’ dengan perubahan zaman,namun dengan catatan tanpa mengubah secuil pun prinsip dasar ideologi Islam. Seperti pendapat yang pernah di ungkapkan oleh Dr. Fathi Yakan (2005) bahwa salah satu faktor robohnya bangunan gerakan Islam adalah tidak adanya kesadaran politik sehingga organisasi gerakan Islam tidak mampu membaca (menganalisis) fenomena realitas kehidupan masyarakat serta tidak mampu mengimbangi perubahan zaman.
Pembacaan politik merupakan hal yang penting karena dari situlah kita dapat melihat peluang-peluang maupun ancaman-ancaman yang bisa mempengaruhi laju pergerakan Islam. Demokratisasi politik akan sangat memudahkan para organisasi pergerakan untuk mengakses informasi-informasi terkini seputar situsasi politik kenegaraan, sehingga jalan yang harus di tempuh elemen-elemen pergerakan terlihat jelas ‘rambu-rambu’nya, dan tidak menabrak koridor hukum yang berlaku. Dengan demikian, disitulah arti penting pemahaman politik bagi setiap aktifis pergerakan Islam.
Mengutip pernyataan Hasan Albana (1938) mengenai pendapatnya tentang politik, ”…tidak seorangpun berbicara kepada anda tentang politik dan Islam kecuali anda dapati bahwa ia memisahkan antara keduanya sejauh-jauhnya…mereka memberi pemahaman kepada kaum Muslimin bahwa Islam adalah sesuatu sedangkan masyarakat adalah sesuatu yang lain; Islam adalah sesuatu sedangkan kebudayaan adalah sesuatu yang lain; dan Islam harus berada jauh dari politik!...katakanlah kepadaku, wahai saudaraku semua, jika Islam adalah sesuatu yang bukan politik, bukan sosial,bukan ekonomi, bukan piula budaya, lalu apa?apakah ia adalah beberapa bilangan rakaat yang sepi dari kehadiran hati ini?ataukah ia adalah beberapa ungkapan seperti yang pernah dikatakan oleh Rabi’ah Al adawiyah:istigfar yang membutuhkan istigfar? Hanya untuk inikah, wahai saudaraku, Alquran di turunkan sebagai sistem yang pasti, terperinci dan sempurna?...Ia menjelaskan segala sesuatu, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman (An-Nahl: 16)”.
Kesuksesan dakwah Rasulullahpun merupakan suatu implementasi dari strategi politik yang beliau rancang, bisa kita lihat mulai dari hijrah Madinah hingga puncaknya adalah Fathu Makkah (penguasaan Mekah). Ketika hijrah ke Madinah, rasulullah dan para sahabat bukannya mencoba lari dari intimidasi rezim kafir Quraisy, namun justru sebaliknya Rasulullah dan para sahabat melakukan konsolidasi politik yakni mulai dari membangun kekuatan politik internal hingga mengadakan koalisi politik dengan kaum yahudi dan Nasrani melalui nota perjanjian Piagam Madinah. Setelah sukses membangun Madinah sebagai kekuatan gerakan Islam, maka langkah selanjutnya adalah ‘menyerbu’ Mekah setelah kontrak politik Hudaybiah ‘Expire Date’.
Sekarang jika kita melihat kondisi Ummat Islam di Indonesia sebagai jumlah mayoritas, maka akan sangat disayangkan jika ternyata Ummat Islam hanyalah menjadi penonton ditengah gemuruh perhelatan politik bangsa. Sungguh seharusnya kita memberikan penghargaan kepada mereka yang tengah berjuang ditengah kancah politik dalam menyuarakan aspirasi Ummat, dan juga kepada mereka yang dengan gigih memberikan kesadaran politik di tengah-tengah masyrakat tentang arti pentingnya politik islam demi tegaknya syariat dan khilafah islam. Tak pelak lagi harus kita katakan bahwa jika definisi dari demokrasi adalah kekuasaan milik rakyat maka Islam haruslah menjadi acuan sistem politik di Indonesia karena mayoritas rakyat Indonesia adalah Ummat Islam, sekarang tergantung bagaimana Ummat Islam dan terkhusus kepada para aktifis gerakan Islam memahami makna luhur dari demokrasi dan politik?
posted by wilopo @ 12:13 AM   0 comments
Wednesday, June 13, 2007
Perempuan Bagi Pahlawan
(Inspirator Tulisan sebelumnya : Gairah Aktivis;dilematika cinta dan perjuangan)
Oleh :Anis Matta
Di balik setiap pahlawan besar selalu ada seorang perempuan agung. Begitu kata pepatah arab. Perempuan agung itu biasanya satu dari dua, atau dua-duanya sekaligus ; sang ibu dan atau sang istri.
Pepatah itu merupakan hikmah psiko-sejarah yang menjelaskan sebagian dari latar belakang kebesaran seorang pahlawan. Bahwa karya-karya besar seorang pahlawan lahir ketika seluruh energi di dalam dirinya bersinergi dengan momentum di luar dirinya; tumpah ruah bagai banjir besar yang tidak terbendung. tiba-tiba, sebuah sosok telah hadir dalam ruang sejarah dengan tenang dan ajeg.
apa yang dijelaskan oleh hikmah psiko-sejarah itu adalah sumber energi para pahlawan; perempuan adalah salah satunya. Perempuan bagi banyak pahlawan adalah penyangga spiritual, sandaran emosional ;dari sana mereka mendapatkan ketenangan dan gairah, kenyamanan dan keberanian, keamanan dan kekuatan. Laki-laki menumpahkan energinya diluar rumah dan mengumpulkannya kembali dari dalam rumahnya.
kekuatan besar yang dimiliki para perempuan yang mendampingi para pahlawan adalah kelembutan, kesetiaan, cinta, dan kasih sayang. kekuatan itu sering dilukiskan seperti dermaga tempat kita menambat kapal atau pohon rindang tempat sang musafir berteduh. namun,kekuatan emosi itu sesungguhnya merupakan padang jiwa yang luas dan nyaman. tempat kita menumpahkan sisi kepolosan dan kekanakan kita, tempat kita bermain dengan lugu dan riang, saat kita melepaskan kelemahan-kelemahan kita dengan aman, saat kita merasa bukan siapa-siapa. saat kita menjadi bocah besar. Sebab, di tempat dan saat seperti itulah para pahlawan menyedot energi jiwa mereka.
itu sebabnya Umar Bin Khattab mengatakan, "jadilah engkau bocah di depan istrimu, tetapi berubahlah menjadi lelaki perkasa ketika keadaan memanggilmu" kekanakan dan keperkasaan, kepolosan dan kematangan, saat lemah dan saat berani, saat bermain dan saat berkarya, adalah ambivalensi-ambivalensi kejiwaan yang justru berguna menciptakan keaseimbangan emosional dalam diri para pahlawan.
"Saya selanjutnya ingin menjadi bocah besar yang polos", kata Sayyid Qutb. Para pahlawan selalu mengenang saat-saat indah ketika ia berada dalam pangkuan ibunya dan selamanya ingin begitu ketika terbaring dalam pangkuan istrinya.
Siapakah yang pertama kali ditemui Rasulullah SAW setelah menerima wahyu dan merasakan ketakutan yang luar biasa?Khadijah!maka,ketika Rasulullah ditawari untuk menikah setelah Khadijah wafat, beliau mengatakan, "dan siapakah wanita yang sanggup menggantikan peran Khadijah?"
Itulah keajaiban dari kesederhanaan. kesederhanaan yang sebenarnya adalah keagungan;kelembutan, kesetiaan, cinta, dan kasih sayang. Itulah keajaiban perempuan.
posted by wilopo @ 2:11 AM   0 comments
Tuesday, June 12, 2007
Kontekstualisasi Pola Perkaderan ; Upaya Penguatan Nilai Kepengaderan 1
Oleh : Wilopo Husodo

Secara garis besar, dalam ilmu politik, dikenal dua jenis tipe partai yakni partai massa dan partai kader 2. partai massa hanya berorientasi pada kuantitas suara pemilih terutama menjelang pemilu, sedangkan partai kader lebih menekankan pada aspek kualitas kader dan juga pola perekrutan secara terstruktur. Sama halnya dalam dunia partai, kita juga akan mengenal dua model organisasi, yakni organisasi massa dan organisasi kader.

HMI MPO merupakan organisasi perkaderan3, yang memiliki pola pembinaan kader secara tersruktur dan sistematis. Dan pada gilirannya ada suatu tujuan yang hendak dicapai dalam pola perkaderan tersebut yakni terutama pada aspek kepribadian seorang kader yang memiliki kapabilitas sebagai sosok yang mampu mengawal laju organisasi dan sekaligus menjadi teladan dalam suatu komunitas masyarakat.

Dalam perkembangannya, metode perkaderan di tubuh HMI MPO malah justru mengalami kebuntuan, dan dampaknya terjadilah krisis kader. Hal ini ternyata menjadi masalah bersama bagi elemen organisasi pergerakan yang lain dimana krisis kader maupun pengurus merupakan masalah yang sangat serius sehingga menjadi kajian utama dalam diskusi keorganisasian kontemporer. Sejumlah tawaranpun lahir dan ternyata pendapat mayoritas lebih terfokus pada aspek perkaderan. Namun pada kasus HMI MPO sendiri, penulis dan beberapa asumsi kader HMI MPO berkesimpulan bahwa masalah besar yang dialami HMI MPO hari ini adalah pada dua titik tekan yakni : perekrutan dan perkaderan.

Dua hal tersebut memiliki wilayah garapan yang berbeda satu sama lain. Yang pertama, perekrutan lebih menekankan pada aspek sosialisasi dan promosi organisasi. sedangkan yang kedua, perkaderan lebih menekankan pada aspek pembiinaan serta pendidikan pada diri kader. Keduanya memiliki keterkaitan satu sama lain, dan menjadi ujung tombak bagi hidup-matinya HMI MPO. Mungkin bukan hanya HMI MPO tapi semua organisasi di seluruh belahan dunia memiliki perhatian yang sangat serius terhadap kedua hal tersebut, karena memang itulah yang menjadi modal inti suatu organisasi.

HMI MPO sudah saatnya untuk me-review pola perekerutan dan perkaderannya. Organisasi mahasiswa tertua di Indonesia ini perlu melakukan upaya kontekstualisasi agar eksistensi organisasi dapat sesuai dengan kebutuhan zaman, bukan sebaliknya HMI MPO menjadi sosok oragnisasi tua yang suadah usang dan tidak layak beroperasi. Dan pada gilirannya berbondong-bondong kader lari mencari wadah organisasi yang lebih matching.

Perlunya Inovasi Metode Perekrutan

Perhatian serius HMI MPO kini terpusat pada model perkaderan. Berbagai lokakarya maupun seminar pun di gelar mulai dari tingkat Pengurus Besar sampai pada tingkat KORKOM, intinya adalah berputar pada masalah : KADER !. Hal ini menjadi wacana yang terus bergulir dan belum menemukan solusi yang memuaskan semua pihak. Dan bahkan senantiasa menjadi perdebatan panas di lingkungan HMI MPO.

Secara garis besar, perkaderan di HMI terdiri dari LK 1, LK 2, LK 3, dan diluar hal tersebut biasanya berupa pelatihan-pelatihan yang sifatnya pengembangan pada kompetensi atau spesialisasi tertentu, seperti training politik, training motivasi,training pengader, dan lain sebagainya. Namun dari sekian banyak tawaran model pelatihan, ternyata masih mengalami kendala yakni perekrutan peserta. Bahkan disinyalir ada beberapa sebab dari kasus tersebut yakni diantaranya seperti timing yang kurang pas, tingkat kebutuhan akan pelatihan, biaya/kontribusi kegiatan, dan lain sebagainya. Dan hal seperti ini membutuhkan kejelian yang matang dalam menyelaraskan antara tawaran kegiatan (produk lembaga) terhadap kebutuhan atau kondisi peserta (konsumen). Ada beberapa hal yang perlu menjadi bahan evaluasi untuk melakukan perekrutan, diantaranya :

a. Alat

Perekrutan bisa disamakan dengan metode marketing, banyak analisa yang dibutuhkan ketika membidik segmen pasar mulai dari alat promosi sampai pada estimasi peserta yang terjaring. Dan hal ini menjadi tanggung jawab para pengurus ditingkat elit untuk menyusun scenario planning dalam memasarkan produk lembaga. Titik tekan alat promosi pada umumnya terdiri atas media yang digunakan (brosur,pamphlet,spanduk,dll) dan bahasa propaganda.

b. segmentasi

Dalam dunia pemasaran, target bukan hanya difokuskan pada kuantitas pasar, tapi juga perlu memperhatikan efek brand image yang akan muncul, meskipun target yang dicapai terhadap jumlah peserta berada dibawah standar. Dan perlu adanya kejelasan dalam membidik segmen pasar, ada estimasi terhadap jumlah peserta tertentu. Misal untuk kegiatan training HAM, maka yang menjadi focus utamanya adalah mahasiswa dari fakultas Hukum dan Sospol.

c. metode

pemasaran yang paling efektif adalah yang dilakukan secara langsung dari mulut ke mulut (Word of Mouth). Namun bukan berarti bahwa cara lain hanyalah menjadi factor pendukung. Pada dasarnya strategi pemasaran hanyalah tergantung dari medan lapangan yang ada, Ada kalanya metode WOM lebih tajam, namun terkadang juga perang pamphlet menjadi metode utama dalam gerilya marketing.

d. keunggulan produk

keunggulan dalam suatu produk merupakan ujung tombak bagi dunia marketing, karena hal ini memiliki efek ganda yakni pada diferensiasi dan brand image. Yang pertama, diferensiasi adalah suatu upaya yang bertujuan guna menciptakan perbedaan yang mencolok terhadap para competitor. Misalnya, di HMI jenis perkaderan bagi pemula adalah basic training yang menekankan pada aspek ideologisasi, yang substansi intinya berupa khittah perjuangan, dan model seperti ini tidak ditemukan di lembaga lainnya. Atau jika di KAMMI dikenal istilah daurah marhalah, Hizbut Tahrir dikenal istilah basic mafahim,dll. Yang jelas satu pertanyaan mendasar bagi HMI MPO yakni apa keunggulan yang dimiliki bagi Basic Training HMI MPO?

Merenovasi Gaya meng-Kader

Selama ini, metode perkaderan di HMI MPO mengandalkan basic training sebagai satu-satunya alat bagi calon anggota untuk memasuki dunia HMI MPO. Fakta dilapangan ternyata menunjukkan gejala yang kurang baik bagi eksistensi bastra HMI MPO, indikatornya adalah banyaknya keluhan peserta terhadap “sosok” Bastra. Dan pada gilirannya menjadikan “barang dagangan” Bastra menjadi tidak laku di pasaran PETIKEMAS.

Menurut pendapat penulis, ada semacam ke-kaku-an dalam dunia perkaderan HMI MPO, dan disatu sisi ada semacam ke-amburadul-an dalam me-manage perkaderan. Yang pertama, ke-kaku-an terjadi karena cenderung terbelenggu oleh aspek yang sifatnya procedural sehingga ruang gerak pengader menjadi sempit dan pada gilirannya akan menghambat laju pertumbuhan kader, hal seperti ini mesti disikapi secara fleksibel dan arif. Dan yang kedua adalah ke-amburadul-an dalam me-manage perkaderan biasanya berkisar pada persoalan profesionalisme dan tanggung jawab para pengader.

Ada beberapa pertanyaan yang mesti diajukan sebelum memulai renovasi perkaderan di tubuh HMI MPO, diantaranya : apakah Bastra HMI MPO masih sesuai dengan kebutuhan mahasiswa hari ini? Apakah mengikuti Bastra merupakan satu-satunya syarat untuk menjadi anggota/kader HMI MPO? Apakah manfaat yang didapat jika seorang mahasiswa mengikuti perkaderan yang diadakan oleh HMI MPO? Atau apa untungnya menjadi kader HMI MPO?

Pertanyaan diatas terkesan sangat pragmatis bahkan oportunis, tapi itulah kondisi mayoritas pasar hari ini (baca :Mahasiswa). Bukan berarti HMI MPO mesti menafikan idealisme perjuangan (kualitas) dan berfokus pada kuantitas kader, tapi ada semacam keharusan bagi kader HMI MPO untuk men-candra jalannya organisasi kedepan, jangan sampai HMI MPO menjadi barang usang yang tidak layak pakai.

Kalau menurut Cahyo Pamungkas4, kader HMI MPO mengalami perasaan rendah diri (inferioritas) atau kurang percaya diri. Persoalan seperti ini mesti ditangani secara serius agar kedepan militansi kader tetap terjaga dan eksistensi organisasi terus berkembang. Dan menjadi tugas pengader untuk menumbuhkan mentalitas superioritas ditubuh kader HMI MPO.

Pada hasil lokakarya perkaderan HMI MPO KORKOM UNHAS5 dikatakan bahwa terjadi pergeseran tradisi (cara pandang terhadap masa lalu, kini dan akan datang) yang sangat dipengaruhi oleh 2 faktor yakni liberalisasi wacana dan alur kesejarahan yang melingkupi. Dimana factor pertama, liberalisasi wacana merupakan hal yang sangat mungkin terjadi, karena dipengaruhi oleh cara pandang yang semakin beragam guna menyikapi ruang keterbukaan yang semakin luas (kebebasan berpikir), sehingga akan ada kecendrungan bahwa gerakan akan dapat mempertahankan dirinya (tetap eksis) jika menemukan sebentuk cara berpikir baru hasil dari persentuhan antara tradisi berpikir kemarin dan hari ini. Sedang factor kedua, alur kesejarahan yang melingkupi adalah menyangkut pada perubahan orientasi dari semua gerakan yang pro perubahan, dimana dominasi wilayah politik-struktural yang menjadi mainstream gerakan pada saat ini tidak lagi efektif untuk dijadikan arah gerak, melainkan pada wilayah social-kultural.

Meneropong Jati Diri Sang Pengader : Pendidik, Pemimpin, dan Pejuang

Tugas inti HMI MPO sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan adalah mencetak genaerasi tangguh yang memiliki karakter sebagai pendidik, pemimpin, dan pejuang. Karakteristik ini nampak sangat jelas pada pribadi teladan figur besar umat manusia yakni : rasulullah SAW. Dan pertanyaannya sekarang adalah sudahkah kader (pengader) HMI MPO -khususnya korps pengader- memenuhi kriteria tersbut?

Pengader harus memiliki kemampuan dalam mendidik, karena hal ini merupakan basis dari pembangunan jatidiri kader organisasi. Para tokoh besar revolusioner sebelum menciptakan revolusi kenegaraan, maka terlebih dahulu mereka mendidik para pasukannya (pengikutnya) agar memiliki pandangan revolusi yang benar dan komprehensif. Tengok saja sepak terjang mereka dalam me-revolusi suatu masyarakat, seperti Rasulullah di Madinah yang melahirkan Negara Islam Madinah, Hasan Al-Bana di mesir yang melahirkan Jamaah Ikhwanul Muslimin, Ayatullah Imam Khomeini yang melahirkan konsep Wilayatul Faqih dalam Republik Islam Iran, dan Ernesto “che” Guevara yang membangun Negara Komunis di Kuba. Semua tokoh tersebut mendidik masyarakatnya (Ummatnya) dengan pengetahuan yang mumpuni seputar landasan ideologis yang menjadi basis utama (pondasi) suatu Negara yang di cita-citakan.


Catatan Kaki :

1. Makalah ini sebagai Prasyarat mengikuti Senior Course

2. Miriam Budiharjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik

3. AD HMI Pasal 8

4. Desain gerakan mahsiswa berbasis keilmuan, Cahyo Pamungkas

5. Lokakarya perkaderan berbasis Konteks HMI KORKOM UNHAS, bab Pendahuluan



posted by wilopo @ 8:30 AM   0 comments
Monday, June 11, 2007
Akhirnya kusempatkan nengokin BLOG tercinta........

By : Orang Lapar

sebenarnya ide nengok blog karena faktor dorongan orang laen yang selalu menghubungiku dengan nada sumbang, katanya aku mandul tulisan alias kagak produktif. Sorry man aku memang malas nengok blog karena lebih fokus kepada "blog kehidupan nyata" ketimbang "blog dunia maya", tapi tengkyu man yang udah 'negur' produktifitasku. Silahkan pelototin tulisan yang ter-Gres, meskipun ditulis dalam keadaan lapar sejak buka puasa belum keisi secuil nasi, LAPAR MAN ........!!!!!


posted by wilopo @ 10:32 AM   0 comments
Waspada Sekelilingmu adalah Masa Depanmu !

oleh : Wilopo Husodo

Nabi pernah bersabda :"seseorang itu tergantung oleh orang disekitarnya,jika ia bergaul dengan tukang minyak wangi maka berbau harumlah ia, dan jika ia bergaul dengan tukang ikan maka berbau amislah ia", kurang lebih seperti itu hadis yang pernah kudengar, makna yang bisa kita ambil adalah bahwa ternyata lingkungan disekeliling kita akan mempengaruhi seperti apa diri kita, atau dengan kata lain lingkungan kita akan membentuk karakteristik diri kita. sudahkah anda menyadari bahwa diri kita yang sekarang ini tidak bisa terlepas dari proses 'recording' kepribadian orang lain yang sehari-harinya bergaul dengan kita, baik sadar maupun tak sadar. proses 'recording' pertama kali adalah terjadi dilingkungan keluarga, melalui dua guru kehidupan yakni ayah dan ibu. Ali syariati -sosiolog islam- pernah berteori bahwa pendidikan yang diberikan dari seorang ibu dan ayah memiliki perbedaan yang cukup signifikan, beliau mengatakan bahwa pendidikan seorang ibu kepada anaknya adalah pendidikan menempa jiwanya/ruhnya, seorang ibu meniupkan ruh kelembutan kedalam diri seorang anak. sedangkan pendidikan dari seorang ayah adalah pendidikan yang sifatnya fisik, dalam hal kerja-kerja yang mengandalkan fisik, dari seorang ayahlah kelak seorang bocah akan mengerti hakikat menjadi manusia sejati.

Dan selanjutanya seorang manusia akan menghadapi pendidikan sejati yakni :KEHIDUPAN NYATA, disanalah terjadi pertarungan, kompetisi, persaudaraan,kasih sayang,pemberontakan,dll. pada fase inilah biasanya terjadi pencarian jati diri, yang meskipun sebenarnya jati diri tidak perlu dicari karena ia terbentuk secara alami melalui proses kehidupan.
Ada suatu pernyataan yang cukup menarik, dan berpengaruh bagi arah kehidupanku sekarang, dikatakan bahwa ada dua masa vital yang kelak akan berpengaruh bagi kehidupan seseorang yakni fase ketika ia masih balita dan kedua adalah fase ketika ia kuliah. Entah benar tidaknya namun yang jelas adalah bahwa memang kehidupan di kedua fase tersebut adalah fase dimana seseorang cepat mengalami proses 'recording', terlebih lagi ketika memasuki masa kuliah, lihatlah para aktivis kampus, preman kampus, hedonis kampus, kemungkinan besar gaya hidup seperti itu akan berlanjut pasca kuliah. Maka beruntunglah para aktivis kampus maupun para organisatoris, karena bekal yang mereka miliki selamanya tidak akan pernah dipelajari di lembaga pendidikan manapun.
Pola kehidupan berorganisasi bukan hanya memberikan skill berupa kemampuan me-manage kehidupan, tapi lebih dari itu, ada proses pembangunan karakter manusia yang meliputi tiga aspek sekaligus; emosional, spiritual, dan intelektual. dan yang terpenting sekaligus paling berpengaruh adalah terjadinya perubahan cara pandang dunia (worldview), dan yang terakhir inilah yang kelak akan mengubah sejarah hidup seseorang.
Lihatlah mereka yang mendedikasikan dirinya terjun kedalam dunia perjuangan (pergerakan) ketika masa kuliah, kelak mereka malahirkan karya besar ketika perjuangan tersebut berlanjut pascakuliah. Karena memang seperti itulah tabiat alam dalam mendidik manusia, ada yang lulus dan adapula yang gagal. kalau Alquran menyebutkan bahwa orang-orang terpilih adalah mereka yang berhasil melewati ujian berupa musibah dan cobaan, jika mereka bersabar maka mereka akan terpilih, dan jika mereka bersyukur maka mereka akan memperoleh keistimewaan.
Ada seorang bocah lugu yang kuliah di fakultas kedokteran, ia memiliki hobi membaca buku, dia suka berbuat baik terhadap sesamanya meskipun terkadang teman akrabnya suka berbuat kasar terhadapnya. suatu hari ia diajak oleh temannya untuk pergi keliling negeri dengan mengendarai motor, meskipun masih kuliah semester akhiri tetap saja memilih pergi ketimbang mengurusi kuliahnya yang sudah hampir selesai. Perjalanan tersebut akhirnya ditempuh dengan bermodalkan nekat, ia bersama temannya pergi mengelilingi negeri argentina, dan hampir di tiap kota mereka selalu singgah untuk sekedar bertatap muka dengan penduduk setempat.
Suatu hari, mereka masuk ke sebuah desa, dan bocah tersebut menyempatkan diri berbincang dengan petani setempat. Setelah pembicaraan yang cukup panjang seputar permasalahan para petani, ia merasakan suatu 'aroma penderitaan' para petani,akhirnya mulailah benih perjuangan melekat dalam dirinya, sejak saat itulah arah sejarah hidupnya mulai berubah, ia memiliki cara pandang (worldview) baru dalam kehidupannya.Pada perjalanan berikutnya ia bertemu dengan para penderita kusta, ia sangat prihatin dengan kondisi tersebut, tak pernah menyangka kalau ternyata negaranya separah ini. Dan akhirnya benih tersebut makin tumbuh subur dalam dirinya. Kemudian pada eksepidisi yang kedua, ia melakukannya sendirian tanpa ditemani oleh teman akrabnya. sejak saat itulah ia mendedikasikan dirinya untuk berjuang melawan tiran, mengangkat derajat orang-orang tertindas, dan bahkan iapun sempat ditunjuk sebagai panglima perang. Puncaknya adalah karya berupa manifestasi dari hasil bacaanya yakni ia telah sukses menggelar revolusi kuba, menggulingkan rezim tiran. Siapakah dia si bocah lugu? dialah sang revolusioner kuba : Ernesto "Che" Guevarra.
Che Guevara memulai perjuangannya dari bangku kuliah, sukarno memulai gerakannya dari bangku kuliah,Ali Syariati merintis karyanya dari bangku kuliah, Karl Marx pun meniti jalur ideologi komunis sejak dari kuliah, dan kita kenal seorang bapak mujahid dunia abad kontemporer yang telah berhasil membangun jamaah besar ikhwanul muslimin yang lantang meneriakkan perlawanan terhadap imperialis inggris; dialah Hasan Albana, yakni sosok pemuda yang telah memimpin gerakan perlawanan sejak ia masih kuliah.
Jadi sangat jelas sekali perbedaan arah hidup seseorang yang memilih jalur perjuangan pada masa kuliah ketimbang mereka yang memilih jalur hedonis pada masa kuliah, yang satu bersifat konstruktif dan sebaliknya yang satu lagi bersifat destruktif, baik untuk kehidupan pribadinya maupun bagi masyarakat di sekitarnya.wallahu 'alam bishowab.
posted by wilopo @ 9:04 AM   0 comments
 
The Zamurai


Name:Wilopo Husodo
Home:Tamalanrea, Makassar
See my complete profile

The Batozai
Sayatan Pedang
Arsip
Lobi-lobi
    Name :
    Web URL :
    Message :
mein volks
third Reich
Counter
Info
Kalender
Waktu
Polling
Template by
Free Blogger Templates